Rabu, 09 Februari 2011

Analisis Cerpen "Sate Nangka" karya : Yusniar

Sinopsis
“Sate Nangka”
karya  :  Yusniar
            Dua orang sahabat bernama Nano dan Adi. Mereka pergi ke sebuah rumah tempat tinggal seorang Nenek bernama Nenek Haris. Sesampainya di sana, Adi melihat buah nangka yang sudah masak. Adi pun bertanya-tanya pada Nek Haris dan Nek Haris pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Akhirnya Adi meminta pada Nek Haris kalau buah nangkanya akan dijual di pasar atau di terminal. Akhirnya Nek Haris membolehkan Nano dan Adi berjualan di pasar dengan syarat Nano dan Adi tidak dimarahi oleh orang tua mereka begitu pun Nek Haris tidak ingin Nek Haris dimarahi oleh kedua orang tua Nano dan Adi.
Dibawalah buah nangka itu menggunakan karung goni oleh Adi dan Nano ke rumah Nano. Setelah sampai di rumah Nano, buah nangka itu dibelah, isinya disayat, lalu bijinya dikeluarkan kemudian ditusuk. Satu tusuk ada empat sampai lima nangka. Mereka menjual satu tusuk dua ratus rupiah. Satu jam kemudian mereka pergi ke pasar dan terminal dengan membawa empat puluh tusuk, dan dalam waktu singkat mereka mendapatkan enam ribu rupiah kemudian sisanya dibawa pulang.
Sesampainya di rumah Nek Haris mereka memberi uang tersebut kepada Nek Haris tanpa meminta imbalannya. Tetapi Nek Haris memberi sisa sate nangka tersebut kepada Nano dan Adi, disaat mereka hendak pulang Nek Haris berpesan jika ada buah nangka yang masak lagi mereka boleh berdagang lagi di pasar atau di terminal.

Opening
            Menolong sesama adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai manusia tanpa membeda-bedakan status, derajat maupun usia yang dapat menghalangi berbuat kebaikan.
Berbuat kebaikan kepada orang lain akan berbuah kebaikan untuk orang yang berbuat baik. Itulah yang dilakukan oleh Nano dan Adi yang memberikan pertolongan kepada Nenek Haris yang tidak bisa berjualan di pasar.
Alur
            Alur yang digunakan di dalam cerpen ini adalah alur maju dimana si tokoh Nano dan Adi membantu seorang Nenek menjual buah nangka pada hari itu juga.
Latar
            Latar di dalam cerpen ini berada di sebuah rumah tempat tinggal seorang Nenek, di rumah Nano dan di pasar atau di terminal bis.
·         Nano dan Adi pergi ke rumah Nenek yang benama Nek Haris untuk bermain karena di rumah tersebut hanya ada Nenek saja. Sesampainya di rumah Nek Haris Nano melihat ada buah nangka yang sudah masak “Nangkanya tidak dijual saja, Nek?” Tanya Nano pada nek Haris. “Nenek menunggu Bah Along. Dia biasanya datang kesini dan membayar seribu rupiah setiap buahnya!” jawab Nenek.
·         Hmmm…kalau boleh, kami akan menjualnya, Nek! Pokoknya paling sedikit Nenek dapat tiga ribu rupiah. Boleh, Nek?” Tanya Adi. Akhirnya Nenek membolehkan mereka berjualan dengan syarat mereka tidak dimarahi oleh kedua orang tuanya. Lalu Nano dan Adi membawa buah nangka tersebut dengan karung Goni ke rumah Nano. Dan sesampainya mereka di rumah Nano, buah itu dibelah lalu isinya disayat dan bijinya dikeluarkan, satu batang lidi berisi empat sampai lima nangka.
·         “kamu macam-macam saja Di! Di mana kita akan menjual nangka ini dengan harga tiga ribu atau lebih?” Nano berkata. “Tenang, No! Aku ada akal, kita buat sate nangka. Musim kemarau belum habis. Pasti akan habis tandas bila kita jual di pasar atau terminal angkot dan bis!”. Setelah mereka membuat sate nangka tersebut, Nano dan Adi sudah menjinjing baskom berisi 40 tusuk sate nangka, ditutup dengan plastik bening. Mereka berjalan menuju terminal bis dan angkot yang menghubungkan kampung mereka dengan kota.

Sudut pandang
      Sudut pandang yang dipakai di dalam cerpan ini adalah orang ketiga yang dimana si penulis Yusniar menceritakan di dalam cerpen “Sate Nangka” ini dua orang sahabat yang membantu seorang Nenek agar mendapatkan penghasilan yang lebih dari ia dapatkan sehari-hari dan seorang Nenek yang hanya menunggu orang lain yang datang ke rumahnya dengan membawa buah nangka ke pasar.



Amanat
      Amanat yang bisa diambil di dalam cerpen “Sate Nangka” ini adalah berbuat kebajikan, selalu ada buahnya.
Menolong sesama tidak harus melihat usia maupun status karena menolong adalah suatu kewajiban kita sebagai manusia.

3 komentar: